MAJT Semarang - Suasana Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Gayamsari, Semarang, tadi malam (Selasa malam–Rabu subuh, 10–11/3/2026) terasa berbeda dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Tadi malam bertepatan dengan malam selikur atau malam ke-21 Ramadan 1447 H. Sejak petang hingga menjelang subuh, masjid kebanggaan Jawa Tengah tersebut dipadati jamaah.
Masjid tampak benar-benar hidup. Ratusan jamaah dari berbagai daerah datang silih berganti—sebagian berombongan, sebagian lainnya sendiri. Tujuan mereka sama: beritikaf pada malam selikur. Banyak di antara mereka juga yang berniat menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan di masjid ini, berharap dipertemukan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul Qadar.
Sejak menjelang Magrib, ruang utama masjid mulai dipenuhi jamaah. Mereka berbuka puasa bersama dengan menu berbuka yang disediakan pengurus masjid.
Diantara kerumunan jamaah terlihat rombongan pelajar dari sekolah Tahfidz Plus Khairu Ummah Ngaliyan Semarang berjumlah sekitar 30 orang. Mereka memilih tempat di lantai dua ( tepat di atas area tempat wudhu) namun pada malamnya juga naik ke ruang utama salat. Selain itu, terlihat pula sejumlah keluarga yang membawa anak-anak untuk merasakan suasana ibadah malam di rumah Allah. Ada pula yang datang sendirian.
Sebagian jamaah pulang setelah salat tarawih. Namun banyak pula yang bertahan di masjid sampai tengah malam, bahkan sampai subuh. Selama di dalam masjid, diantara mereka ada yang salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, atau melihat pengajian melalui ponsel di tangannya.
Menjelang pukul 22.00 WIB, jamaah kembali berdatangan. Hal yang sama menjelang pukul 02.00 WIB, bahkan jumlah yang datang lebih banyak dibanding jam 22.00.
Di antara jamaah yang hadir bersama keluarga adalah Zaenuri (48), warga Kebonharjo, Semarang Utara. Ia datang bersama istri dan tiga anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan TK. Bagi Zaenuri, iktikaf di MAJT bukan sekedar kebiasaan sesaat. Ia telah melakukannya selama tiga tahun terakhir setiap Ramadan.
“Kalau tanggal 1 sampai 20 saya datang sebelum Magrib dan pulang setelah tarawih. Tapi kalau sudah sepuluh malam terakhir, saya datang sebelum Magrib dan pulang setelah Subuh,” ujarnya.
Malam-malam itu ia habiskan bersama anak-anaknya di dalam masjid. Meski pengurus masjid menyediakan hidangan berbuka dan sahur, Zaenuri tetap membawa bekal dari rumah untuk berjaga-jaga.
“Kadang jamaahnya banyak sekali. Kalau ramai, makanan yang disediakan bisa kurang,” katanya. Baginya, beribadah di MAJT saat Ramadan terasa sangat nyaman dan khusyuk. Setiap malam, salat tarawih 20 rekaat ditambah 3 witir dilaksanakan dengan bacaan satu juz Al-Qur'an. Lantunan ayat suci yang menggema di bawah kubah besar masjid membuat suasana terasa damai.
"Rasanya nikmat sekali mengikuti tarawih di sini. Suara imamnya merdu, fasih bikin adem. Setelah itu kami iktikaf sampai Subuh," katanya.
Anak-anaknya pun tidak sekedar menemani. Anak pertama dan kedua yang sedang mondok di pesantren tahfidz di Karanganyar, yang kini liburan, waktu iktikaf dimanfaatkan untuk murojaah hafalan Al-Qur'an.
Zaenuri mengaku sengaja menyumbangkan waktu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan datang ke masjid untuk I'tikaf sebagai bentuk syukur kepada Allah setelah setahun bekerja. “Kalau berdoa di sini rasanya lebih mantap. Kita yakin Allah akan mengabulkan apa yang kita rindukan,” ujarnya.
Di sudut lain masjid, Mustofa (60), warga Medoho Raya Semarang juga tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah malam. Ia mengaku hampir setiap malam ganjil datang ke MAJT, meski sesekali juga beribadah di Masjid Kauman.
Ia sengaja datang sekitar pukul 22.00 WIB untuk mengikuti salat sunah tasbih berjamaah gelombang pertama. Setelah salat kadang pulang, kadang bertahan di masjid sampai selesai subuh.
“Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang berharga, eman kalua terbuang. Rasanya rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk datang ke masjid,” ujarnya.
Kepala Bagian Humas MAJT, Benny Arief Hidayat, yang tadi malam juga iktikaf di masjid mengatakan selama sepuluh malam terakhir Ramadan berbagai kegiatan ibadah diadakan untuk jamaah. Salah satunya salat tasbih berjamaah yang dilaksanakan dalam dua gelombang.
Gelombang pertama dimulai pukul 22.30 WIB hingga pukul 24.00 WIB dan dipimpin Drs. KH. Amjad Al-Hafidz,B.Sc., M.Pd. ulama yang dikenal sebagai penulis nazam (syair) Asmaul Husna yang populer di kalangan Nahdlatul Ulama dan madrasah di Indonesia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan selawat, dilanjutkan salat tasbih empat rakaat, salat hajat dua rakaat, dan salat taubat dua rakaat. Setelah itu jamaah melanjutkan wirid Asmaul Husna dan doa bersama. Tadi malam diikuti 150 jamaah putra dan putri mengikuti rangkaian ibadah tersebut. Tahun tahun jumlahnya bisa lebih dari angka itu.
“Setelah gelombang pertama selesai, sebagian jamaah pulang, tetapi banyak juga yang tetap bertahan di masjid,” kata Benny.
Sementara gelombang kedua digelar pukul 02.00 WIB dan dipimpin imam yang ditunjuk pengurus MAJT. Tadi malam itu dipimpin KH Hanief Ismail. Jamaah melaksanakan salat hajat empat rakaat dilanjutkan wirid/dzikir dan doa hingga sekitar pukul 03.00 WIB, diikuti sekitar 200 orang.
“Ini perlu diketahui, untuk salat tasbih gelombang pertama dilaksanakan setiap malam hingga akhir Ramadan. sedangkan gelombang kedua pukul 02.00 WIB hanya diadakan pada malam-malam ganjil saja, malem selikur, malem telulikur, malem selawe, malem pitulikur, malem songolikur,” jelasnya.
Di luar dua rangkaian salat berjamaah tersebut, banyak jamaah memilih salat secara mandiri atau tidak berjamaah. Usai salat, mereka membaca Al-Qur'an, berdoa, berzikir, atau beristirahat sejenak sebagai bagian dari iktikaf hingga Subuh.
"Malam ini kami menyediakan 250 box nasi, teh, kopi, dan air putih. Nasi kami letakkan di dekat pintu masuk utama masjid dan dibagikan setelah salat gelombang kedua selesai," kata Benny.
Ia menambahkan, animo masyarakat untuk iktikaf di MAJT terus meningkat. Tahun ini pengurus juga membuka program khusus iktikaf yang difasilitasi dengan penginapan di hotel Masjid Agung Jawa Tengah.
“Saat ini sudah ada enam yang mengikuti program iktikaf. Kebetulan semuanya perempuan, satu ibu rumah tangga dan lima siswa, ada yang dari Semarang maupun luar kota,” ujarnya.
Menurutnya, jamaah yang datang tidak hanya berusia di atas 50 tahun. Banyak pula kalangan muda, termasuk pelajar dan remaja yang datang bersama keluarga.
Sementara itu, KH Amjad Al-Hafidz sebelum memimpin salat tasbih mengingatkan jamaah bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah.
“Banyak orang yang belum memanfaatkan waktu ini karena belum tahu keutamaannya. Kalau tahu, pasti mereka akan datang ke masjid,” ujarnya.
Ia juga mengajak jamaah menghidupkan malam-malam Ramadan bersama keluarga dengan itikaf di masjid meski sebentar.
“Datanglah ke masjid bersama anak-anak dan keluarga. Ini juga bentuk syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan,” katanya.
Malam selikur di Masjid Agung Jawa Tengah pun menjadi saksi bagaimana rumah ibadah itu benar-benar hidup—penuhi harapan, doa, dan kerinduan umat untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar.