PPBIC MAJT Gelar Seminar Beasiswa ke Tiongkok

  • 0
Seminar Beasiswa ppbic

PPBIC MAJT Gelar Seminar Beasiswa ke Tiongkok

Falsafah “Carilah ilmu sampai ke negeri China”, bercermin dari motto pada Sabtu (25/3) kemarin, Pusat Pengembangan Budaya Islam-China (PPBIC) Masjid Agung Jawa Tengah menyelenggarakan seminar beasiswa“Kiat Menembus Beasiswa Studi ke Tiongkok”.

Seminar tersebut dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut, bertempat di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Jalan Gajah Raya Semarang. Dan dibuka olehSekretaris Dewan Pelaksana Pengelola MAJT Drs. KH. Muhyiddin M.Ag. Dalam sambutannya, ia berharap acara ini bisa bermanfaat bagi para anak muda di Indonesia khususnya Jawa Tengah dalam mengakses peluang beasiswa studi ke Tiongkok.“Jangan lupa, semua itudiniatkan untuk Tholabul Ilmi atau mencari ilmu.Tholabul ‘Ilmi faridhotun minal mahdi ilallahdi, mencari ilmu adalah wajib dari lahir hingga sampai ke liang lahat“, katanya menambahkan, mengutip hadist yang cukup populer.

Seminar ini menghadirkan dua pembicara alumnus dari Tiongkok, Teysar Adi Sarjana,alumnus Huazhong Agriculture University dan Ahmad Syaifuddin Zuhri, alumnus Nanchang University.Dalam pemaparannya sebagai pemateri pertama, Teysar menjelaskan tentang kehidupan di Tiongkok.Mulai dari makanan, transportasi, pergaulan di kampus juga bagaimana cara bergaul dengan masyarakat lokal. Semuanya dijelaskan secara rinci.Bahkan, bagi mahasiswa yang beragama islam, tidak perlu khawatir untuk menemukan makanan halal.

“Di setiap sudut kota, kampus, ada warung atau kantin yang khusus menyediakan makanan halal. Jadi jangan khawatir kuliah di Tiongkok. Banyakmakanan kemasan juga yang berlogo sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh asosiasi muslim setempat”.Ujar pria yang juga dosen peternakan di Universitas Diponegoro tersebut.

Sementara dalam seminar tersebut, Ahmad Syaifuddin Zuhri,membuka materi dengan menjelaskan bahwa saat ini di Tiongkok, data resmi dari Kementerian Pendidikan RRT, ada 397.635 pelajar asing (2015). Dari jumlah itu, sekitar 12.694 pelajar asal Indonesia. Pelajar asal Indonesia menempati urutan ke-9 setelah Korea Selatan, AS, Thailand, India, Pakistan, Rusia, Kazakhstan dan Jepang.

Usai menjelaskan singkat gambaran pelajar asing disana. Ia melanjutkan dengan menjelaskan program beasiswa China Government Scholarship oleh institusi China Scholarship Council (CSC). “Jenis beasiswa dari program itu antara lain melaluiprogram kejasama Bilateral Indonesia-Tiongkok (Chinese Embassy), program AUN (ASEANUniversity Network), program Chinese University Scholarshipdan masih banyak lainnya. “Semua bisa diakses sebagai jalur masuk untuk mendapatkan beasiswa, baik full beasiswa atau beasiswa parsial” imbuh pria yang juga Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan Budaya Islam-China (PPBIC) MAJT itu.

Tiap tahun, institusi China Scholarship Council (CSC) mengalokasikan sekitar seribu kursi beasiswa untuk pelajar dari negara-negara ASEAN. Khususnya untuk jenjang S2-S3. “Saat ini peluang untuk pelajar Indonesia cukup besar dengan makin eratnya hubungan kedua negara sehingga alokasi khusus untuk Indonesia tiap tahun bertambah. Tahun 2016 kemarin saja, ada sekitar 150-an pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa tersebut”, ujar mantan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2013-2014 tersebut.

Pria yang juga Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta ini, juga menambahkan bahwa tidak usah khawatir akan belajar disana. Saat ini, dengan kemajuan Tiongkok di segala bidang, banyak kampus disana yang masuk 100 besar kampus dunia.

Usai diskusi dan tanya jawab. Zuhri mengajak peserta untuk simulasi bagaimana cara mendaftar secara online program beasiswa tersebut, mencari kampus yang ideal dari 279 perguruan tinggi yang menyediakan beasiswa. Berkas-berkas apa saja yang harus disiapkan dan bagaimana cara mengirimkannya serta langkah apa yang dilakukan usai lolos seleksi.

Antusisasme akan seminar ini cukup tinggi.Untuk efektifitas acara, awalnya panitia membatasi peserta hanya 50 orang saja. Akan tetapi, ternyata yang hadir lebih dari 60 orang. Tak hanya itu, ada juga peserta mahasiswa asing asal Thailand. Sesi tanya jawab juga menjadi sesi yang paling banyak menyedot antusiasme dari para peserta akan ketertarikannya beasiswa ke Tiongkok.

“Saya ingin melanjutkan S2 di Tiongkok, jadi coba ikut seminar ini untuk tahu bagaimana tips dan caranya (mendaftar)”, kata Sufeeya Musoor dan Rusnanee Tayeh,dua mahasiswa asal Thailand yang sedang kuliah di Universitas Wahid Hasyim.

Seminar ini didukung oleh RISMA JT, Perkumpulan Persahabatan Alumni Tiongkok Indonesia (PERHATI), Greatwall Education China-Consultant dan GP Ansor Bidang Hubungan Internasional.

PPBIC MAJT tahun 2016 lalu juga sukses membantu pendampingan delapan mahasiswa lolos beasiswa S2-S3 ke beberapa kota di Tiongkok.Lembaga yang didirikan oleh para alumnus Nanchang University dari santri-santri MAJT yang lulus pada 2015 lalu ini juga membuka program pendampingan bahasa mandarin dan pusat bacaan tentang Tiongkok dan islam di perpustakaan MAJT Semarang.

 

Materi Seminar : PRESENTATION GREATWALL Tips Cari & Daftar Beasiswa ke Tiongkok


  • 0
17hfotobersama

MAJT Berangkatkan Lagi 8 Santri ke China

Tags :

SEMARANG – Untuk kedua kalinya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akan memberangkatkan delapan santri untuk studi lanjut S2 dan S3 di China. Secara simbolis mereka dilepas oleh Sekretaris Dewan Pelaksana Pengelola MAJT Drs KH Muhyiddin Mag dan Dewan Pembina Drs H Ali Mufiz MPA dalam suatu upacara di aula masjid, kemarin.
Direktur Pusat Pengembangan Budaya Islam-China MAJT Agus FathuddinYusuf menjelaskan angkatan pertama sebanyak sembilan orang yang sudah lulus S2 dari China sekarang ini sudah langsung terserap di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.
‘’Angkatan kedua ini seben17HCHINA2KOTarnya kita mendapat kuota dari Konsultan Jendera China di Surabaya 10 orang. Namun hanya bisa memberangkatkan 8 orang. Mungkin informasinya tidak sampai ke pondok-pondok pesantren atau masjid-masjid,’’ kata Agus.
Delapan orang yang akan berangkat mulai akhir Agustus ini yaitu empat orang studi S2 Itsna Rahma Fitriani,Atikah Rizki Kusumaningtyas dan Musa Ridlo di Jiangxi Normal University serta Makruf di Ocean China University. Empat orang studi S3 Hilyatu Millati Rusydiyah SE MM di Chongqing University, Nurwidiyanto SPd MSc di Noerteast University, Ali Romdloni MA di Heilonjiang University dan Pramono Sugiarto di Sandong University.
Agus Fathuddin menjelaskan, beasiswa dari pemerintah China bermacam-macam ada yang melalui Yayasan Confucius, Hanban, pemerintah China secara langsung dan dari pemerintah provinsi dimana lembaga perguruan tinggi itu ada. Tiga orang yang mengambil studi S2 yaitu Itsna Rahma Fitriani, Atikah Rizki Kusumaningtyas dan Musa Ridlo mendapat beasiswa dari Pemerintah Provinsi Jiangxi. ‘’Beasiswa yang ditanggung hanya beaya kuliah dan asrama sedangkan biaya hidup ditanggung masing-masing. Akibat masih ada tanggungan biaya hidup ini banyak peserta yang akhirnya mengundurkan diri. Alhamdulillah Gubernur Ganjar Pranowo dan Ketua Komisi E DPRD Jateng Yoyok Sukawijaya memberikan bantuan biaya hidup sehingga mereka bisa tetap berangkat untuk studi di China,’’ katanya. Menurut rencana mereka akan menempuh studi selama 2-4 tahun. Sebelum berangkat selama tiga bulan mereka telah mendapat pembekalan Bahasa Mandarin dasar di Pusat Pengembangan Budaya Islam-China MAJT selama tiga bulan.
 
Kerjasama Baik
Sekretaris MAJT Drs KH Muhyiddin Mag menjelaskan, kerjasama pemerintah Indonesia dengan China khususnya dengan MAJT semakin baik. ‘’Secara khusus MAJT sudah bekerjasama dengan Nanchang University di Provinsi Jiangxi dan Beijing Language Culture University (BLCU) di Provinsi Beijing. Mudah-mudahan ke depan bisa dikembangkan lagi,’’ katanya.
Dia berharap kerjasama terus akan dikembangkan lagi dalam bentuk pertukaran budaya, ekonomi dan lain-lain khususnya antara muslim di Jawa Tengah dengan muslim di China.
Mantan Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA menyambut gembira pemberangkatan delapan santri MAJT yang akan studi lanjut di berbagai perguruan tinggi di China. ‘’Semua sudah paham ke depan kekuatan China dalam percaturan dunia sangat diperhitungkan. Maka kalau anak-anak mendapat kesempatan menempuh ilmu disana saya kira itu kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,’’ kata Dewan Pembina MAJT itu. Dia berharap selama studi di China mereka mampu menambah jalinan silaturahim dan networking dengan banyak pihak terutama dengan China Islamic Association (CIA) atau semacam Majelis Ulama-nya China. Penglepasan ditandai pemberian tumpeng kepada para calon mahasiswa oleh para pengurus Masjid Agung Jawa Tengah. 

Testimonials

bp-majtgmail-com.jpeg
Kembalinya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang menjadi momentum sejarah yang penting bagi masyarakat muslim Semarang. Momentum kembalinya banda wakaf tersebut menjadi titik klimaks perjuangan masyarakat muslim semarang dalam menyelesaikan masalah yang sebenarnya telah muncul sejak tahun 1980.Kembalinya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang tersebut inilah yang menjadi latar belakang sejarah pendirian Masjid Agung Jawa Tengah.
DPP MAJTSAMBIREJO

Radio DAIS

Categories