Bahasa Indonesia

MASJID AGUNG JAWA TENGAH

Mutiara Tanah Jawa

Oleh : Agus Fathuddin Yusuf *)

 

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah : 18) 

IBARAT dua sisi mata uang, membicarakan Masjid Agung Jawa Tengah tak bisa lepas dari Masjid Agung Kauman Semarang. Mengapa? Ya, karena Masjid Agung Jawa Tengah ada karena Masjid Agung Kauman Semarang. Begini ceritanya, Masjid Agung Kauman di Jalan Alon-alon Barat Kauman Semarang mempunyai tanah Banda Masjid seluas 119,1270 Ha yang dikelola oleh Badan  Kesejahteraan Masjid (BKM), organisasi bentukan Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Departemen Agama.

Dengan alasan tanah seluas 119,1270 itu tidak produktif oleh BKM ditukar guling (ruislag) dengan tanah seluas 250 hektare di Kabupaten Demak lewat PT. Sambirejo. Dari PT. Sambirejo kemudian berpindah kepada PT. Tens Indo Tjipto Siswojo. Singkat cerita proses ruilslag itu tidak berjalan mulus, tanah di Demak itu ternyata ada yang sudah jadi laut, sungai, kuburan dan lain-lain. Walhasil Tanah Banda Masjid Agung Kauman Semarang hilang, raib akibat dikelola oleh manusia-manusia jahat dan tidak amanah.

Lewat jalur hukum dari Pengadilan Negeri Semarang hingga Kasasi di Mahkamah Agung, Masjid Agung Kauman (BKM) selalu kalah. Akhirnya sepakat dibentuk Tim Terpadu yang dimotori oleh Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakorstanasda) Jawa Tengah / Kodam IV Diponegoro. Pada waktu itu Pangdam IV / Diponegoro dijabat Mayjen TNI Mardiyanto (yang akhirnya menjadi Gubernur Provinsi Jawa Tengah dan Menteri Dalam Negeri). Tim ini awalnya dipimpin Kolonel Bambang Soediarto, kemudian dilanjutkan oleh Kolonel Art Slamet Prayitno, Kepala Badan Kesbanglinmas Provinsi Jawa Tengah pada waktu itu.

Pada Jumat Legi 17 Desember 1999, usai shalat Jumat di Masjid Agung Kauman, ribuan umat Islam bermaksud memberi pressure kepada Tjipto Siswojo agar menyerahkan tanah-tanah itu kembali kepada masjid. Mereka melakukan longmarch dari Masjid Agung Kauman menuju rumah Tjipto Siswojo di Jalan Branjangan 22-23, kawasan Kota Lama Semarang.

Akhirnya, melalui proses panjang yang berbelit-belit dan melelahkan, Tjipto Siswojo mau menyerahkan sertifikat tanah-tanah itu kepada masjid. Meskipun ketika dia menyerahkan, Tjipto mengaku bukan karena tekanan dari siapa pun, tetapi masyarakat sudah terlanjur meyakini Tjipto menyerahkan harta bendanya karena pressure masyarakat Jumat legi 17 Desember itu. Kemudian dibentuk Tim Terpadu dengan Ketua Kolonel Bambang Soediarto (dari Kodam IV/Diponegoro) dan Sekretaris Slamet Prayitno (Kepala Badan Kesbanglinmas Jawa Tengah).

Memang cukup sulit untuk menulis siapa yang paling berjasa dan berperan dalam proses mengembalikan bandha masjid yang hilang. Karena cukup banyak yang terlibat dan berperan melakukan tugasnya sesuai bidang tugas dan tanggungjawab masing-masing. Semuanya berikhtiar bahu-membahu bagaimana caranya mengembalikan bandha masjid yang bertahun-tahun hilang.

Namun saya ingat betul pada periode awal yang paling intens mengupayakan proses pengembalian tanah banda masjid yang hilang ini antara lain; KH MA Sahal Mahfudh (waktu itu Ketua Umum MUI Jawa Tengah), Drs H Ali Mufiz MPA (waktu itu Ketua MUI Jawa Tengah/Dosen Fisip Undip Semarang. Selanjutnya menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah berpasangan dengan H Mardiyanto. Ali Mufiz pada 28 September 2007 dilantik menjadi Gubernur Jawa Tengah karena H Mardiyanto menjadi Menteri dalam Negeri), Dr H Noor Achmad, MA (anggota DPRD Jawa Tengah/waktu itu Ketua Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia BKPRMI Jateng), dan Drs HM Chabib Thoha MA (Sekretaris Umum MUI Jawa Tengah akhirnya menjadi Kepala Kanwil Departemen Agama Jawa Tengah). Mereka hampir setiap hari berkumpul di Kantor MUI Jawa Tengah (sebelah utara Masjid Raya Baiturrahman) Simpanglima Semarang. Saya sendiri sebagai wartawan mendapat tugas untuk terus mempublikasikan gerakan umat dalam upaya mengembalikan bandha masjid yang hilang. Alhamdulillah seluruh aktivitas itu bisa kami rekam dalam bentuk buku “Melacak Bandha Masjid yang Hilang”.

Gerakan umat pun terus berlanjut bak gayung bersambut. Masyarakat Kauman bersama seluruh elemennya terus berjuang agar tanah-tanah bandha masjid itu kembali. KH Turmudzi Taslim AlHafidz (Almarhum), KH Hanief Ismail Lc, H Hasan Thoha Putra MBA, Ir H Hammad Maksum, H Muhaimin S.Sos dan lain-lain adalah sebagian nama-nama yang menyemangati gerakan tersebut. Sementara lewat gerakan spiritual Drs KH Dzikron Abdullah, KH Amdjat AlHafidz, KH Kharis Shodaqoh, KH Muhaimin, KH Masruri Mughni memberikan dukungan lewat jalur lain.

Melalui jalur politik tidak kalah serunya. Pembicaraan di Gedung Berlian DPRD Provinsi Jawa Tengah tentang bandha masjid sangat intens. Ketua DPRD Jawa Tengah H Mardijo waktu itu memimpin paripurna. KH Achmad Thoyfoer MC (Almarhum) Drs KH Ahmad Darodji MSi, Drs H Istajib AS, Dr H Noor Achmad MA, H Abdul Kadir Karding Spi, Drs H Hisyam Alie, dan masih banyak nama lain yang semuanya mendukung upaya mengembalikan bandha masjid, Masya Allah, Subhanallah.

Peran para wartawan cetak dan elektronik juga tak bias dianggap sepele. Hampir setiap hari Harian Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Harian Sore Wawasan, Kompas, Jawa Pos dan lain-lain memberitakan perburuan bandha masjid yang hilang.

Hampir semua instansi pemerintah juga terlibat aktif. Antara lain Sekda Provinsi Jateng, Kesbanglinmas, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kejaksaan Tinggi, Polda Jateng, Kodam IV/Diponegoro, Departemen Agama, dan Pemerintah Kota Semarang.

Dari 119,1270 Hektare Tanah Banda Masjid Agung Kauman Semarang yang hilang, baru ditemukan 69,2 hektare. Puncaknya pada Sabtu, 8 Juli 2000 di ruang Paripurna DPRD Provinsi Jawa Tengah Jalan Pahlawan Semarang, Tjipto Siswojo menyerahkan sertifikat tanah seluas 69,2 hektare kepada Pangdam IV/Diponegoro/Ketua Bakorstanasda Jateng Mayjen TNI Bibit Waluyo (pengganti Mayjen Mardiyanto) kepada Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto (menggantikan H. Soewardi). Bibit Waluyo selanjutnya menjadi Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013.

Gubernur Jawa Tengah  Mardiyanto punya ide cemerlang. Sebagai tetenger atau pertanda kembalinya Tanah Banda Masjid yang hilang, dari 69,2 hektare itu diambil 10 hektare di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari Kota Semarang untuk didirikan Masjid. Pada 28 November 2001 diadakan Sayembara Desain Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah. Yang menjadi pemenang adalah PT. Atelier Enam Bandung dipimpin Ir. H. Ahmad Fanani.

Pada Jumat, 6 September 2002, Menteri Agama Prof. Dr. KH. Said Agil Al-Munawar, Ketua Umum MUI Pusat KH MA Sahal Mahfudh dan Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto menanamkan tiang pancang pertama dimulainya Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah. Sehari sebelumnya, Kamis malam 5 September 2002 dilakukan semakan Alquran oleh 200 hafiz se-Jateng dan Asmaul Husna dipimpin KH. Amdjad AlHafiz. Pada awalnya direncanakan menghabiskan biaya Rp 30 Miliar. Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto pada upacara pereesmian menyebut biaya pembangunan keseluruhan sebesar Rp 198.692.340.000. Namun dalam perkembangannya menurut Wakil Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Dr H Noor Achmad MA, biayanya terus mengalami peningkatan hingga mencapai Rp. 230 Miliar.

Presiden RI Dr Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada Selasa 14 November 2006M/23 Syawal 1427H pukul 20.00. Peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 meter dengan berat 7,8 ton. Batu itu merupakan batu alam yang khusus diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang. Prasasti tersebut dipahat Nyoman M. Alim yang juga dipercaya membuat miniatur candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna Austria pada tahun 2001. Presiden SBY kemudian didampingi KH Habib Lutfi bin Ali Yahya, KH. MA Sahal Mahfudh, Menteri Agama Maftuh Basyuni dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto dan Wakil Gubernur Drs H Ali Mufiz MPA menunaikan shalat sunah di MAJT.

 

LOKASI

Masjid Agung Jawa Tengah terletak di Jl. Gajahraya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari (dulu masuk Kecamatan Pedurungan), Kota Semarang.

Kalau anda datang dari arah Demak (timur) sampai sebelah barat Jembatan Genuk tepatnya di pertigaan Trimulyo-belok ke kiri – lewat Kudu – Bangetayu – melewati rel KA – menuju jalan Woltermonginsidi. Dari Jln. Woltermonginsidi-belok ke  kanan – melalui Jln. Arteri Citarum (Jalan Soekarno-Hatta). Belok ke kiri ke Jln. Gajah Raya. Bisa juga dari Demak lewat Jln. Raya Kaligawe – sebelum jembatan Kaligawe – belok  ke kiri lewat Jln. Inspeksi Kali Banjirkanal Timur – Jln. Sawah Besar – Perempatan Arteri Soekarno-Hatta dan Jln. Gajah Raya.

Bila anda datang dari arah Grobogan (Purwodadi, Gubug) melewati Jln. Raya Penggaron-Pedurungan-Jln. Raya Majapahit (Brigjen Soediarto)-RS. Bhayangkara sampe perempatan Macro-belok kanan masuk Jalan Gajah Raya. Atau sampai pertigaan Pedurungan ambil kanan masuk Jln. Arteri Citarum (Soekarno Hatta)- Jln. Gajah Raya.

Bila anda datang dari arah Solo, Magelang, DIY, Banyumas, Kedu dll (Selatan). Sampai di Banyumanik, Sukun – Kanan lewat Tol Jatingaleh. Setelah melewati pintu tol Tembalang – ambil kanan ke arah Kaligawe – Demak. Sebelum sampai pintu tol Muktiharjo ambil kiri masuk Jln. Majapahit/Brigjen Soediarto-Kanan RS.Bhayangkara- Perempatan Macro Kanan masuk Jln. Gajah Raya. Bisa juga melewati jalur Srondol – Gombel – Jatingaleh – Pasar Peterongan – Jln. MT. Haryono (Mataram) – Perempatan Bangkong – Kanan – Perempatan Milo – Jln. Brigjen Soediarto/Jln. Majapahit, Perempatan Macro Kiri – Jln. Gajah Raya.

Bila anda datang dari arah Barat (Kendal-Pekalongan-Tegal-Jakarta). Dari bundaran Tugumuda lurus ke Timur Jln. Pandanaran-Simpanglima-Jln. Ahmad Yani-Perempatan Bangkong-Perempatan Milo-Jln. Brigjen Soediarto/Jln. Majapahit-Perempatan Macro-Kiri- Masuk Jln. Gajah Raya. Bisa lewat jalur Bundaran Tugumuda-Jln. Pemuda (Balai Kota Semarang)-Pasar Johar-Bubakan-Pertokoan Jurnatan-Jln. Patimura-Perempatan Jln. Dr. Cipto-Patimura-Jln. Raya Citarum (Stadion Citarum)-Jln. Arteri Citarum (Soekarno-Hatta)-POM Bensin Masjid Agung Kauman Semarang-Kanan masuk Jln. Gajah Raya.

MAJT juga bisa diakses melalui Jln Kartini Raya, kemudian lewat jembatan Kartini, melalui Jln Unta Raya dan Jln Medoho Raya tembus ke Jln Gajahraya.

 

BADAN  PENGELOLA

Untuk menjalankan roda organisasi Masjid Agung Jawa Tengah, pada Tahun 2003 tepatnya 28 Maret 2003, Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto mengeluarkan SK Nomor 71 Tahun 2003 tentang Pembentukan Pembina, Pengawas dan Pengelola Masjid Agung Provinsi Jawa Tengah. Sebagai Ketua Drs. H. Achmad, Wakil Ketua I, II dan III Drs HM Chabib Thoha MA, Drs H Ali Mufiz MPA dan Drs H Noor Achmad, MA. Sekretaris I, II dan III Drs H Muhtarom HM, dr Anung Sugihantono MKes dan Drs H Ibnu Djarir. Bendahara I dan II Drs H Zubaidi dan Ir Nidhom Azhari DiplHE. Dalam perjalanannya Drs H Ali Mufiz MPA dan Drs H Djaesar Amit mengundurkan diri dari jabatan Badan Pengelola.

Pada 29 Maret 2006, Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto menerbitkan Surat Keputusan (SK) nomor : 451.2/19/2006 tentang Penunjukan Kepengurusan Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, dan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Tahun 2006-2009. Sebagai Ketua Prof Dr H Abdul Djamil MA. Wakil Ketua Dr H Noor Achmad MA. Sekretaris Drs H Agus Fathuddin Yusuf. Wakil Sekretaris H. Ateng Chozany Miftah SE MSi. Bendahara Hj Gatyt Sari Chotijah SH dan Wakil Bendahara H Gautama Setiadi. Bidang Takmir diketuai Prof Dr H Muhtarom HM dan Bidang Lembaga Pengembangan Usaha (LPU) diketuai H Hasan Thoha Putra MBA. Bersamaan itu Gubernur Jawa Tengah juga menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor : 18 Tahun 2006 Tanggal 7 Maret 2006 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengawas dan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah.

Untuk membiayai operasional Masjid Agung Jawa Tengah, masjid ini dilengkapi berbagai sarana dan prasarana yang bisa menghasilkan uang. Yaitu meliputi Gedung Convention Hall (Auditorium), Shouvenir Shop dan PKL, Office Space, Guest House, Menara Pandang, Areal Parkir dan Museum Kebudayaan Islam. Untuk mengelola bidang usaha tersebut, LPU Masjid Agung Jawa Tengah menunjuk pihak ketiga (outsourching) yaitu PT Madani Agung Jaya (MAJ). Penandatanganan MoUdilakukan pada 25 Agustus 2006 di Masjid Agung Jawa Tengah. Ditandatangani oleh Ketua LPU H. Hasan Thoha Putra dan Dirut PT. MAJ Yustica serta disaksikan Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Prof Dr H Abdul Djamil MA. Dalam naskah MoU tersebut disebutkan masa kerja sama berakhir pada 1 September 2010.

Pada Sabtu Pon, 23 September 2006, bertepatan dengan Upacara Tradisi Dugderan di Masjid Agung Jawa Tengah, Gubernur H. Mardiyanto meresmikan berdirinya (mengudara kali pertama) “On-Air” Radio Dakwah Islam (DAIS) di frekwensi 107,9FM. Studio Radio terletak di lantai dasar Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto bersama Sekda H Mardjijono SH, Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Drs Saman Kadarisman, Ketua Badan Pengelola Prof Dr H Abdul Djamil MA dan Penanggungjawab Siaran Radio DAIS Agus Fathuddin Yusuf, melakukan siaran perdana dengan “Menyapa pendengar” pada frekuensi 107,9 MHz.

Pada 30 Maret 2009, Gubernur Jawa tengah H Bibit Waluyo menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor 451/26/2009 tentang Pengangkatan Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengawas, dan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah tahun 2009-2013. Sebagai Ketua Drs H Ali Mufiz MPA. Wakil Ketua Dr H Noor Achmad MA dan Prof Dr H Ali Mansyur SH SpN M.Hum. Sekretaris Drs H Agus Fathuddin usuf. Wakil Sekretaris Drs Muchsin Jamil MAg. Bendahara Hj Gatyt Sari Chotijah SH MM dan Wakil Bendahara Hj Sofiana Subarkah. Bidang Takmir tetap diketuai Prof Dr H Muhtarom HM dan Bidang Usaha diketuai Ir H Khammad Maksum AHafidz yang menggantikan H Hasan Thoha Putra MBA. Bersamaan itu Gubernur Jawa Tengah juga menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor: 22 Tahun 2009 tanggal 25 Maret 2009 tentang Organisasi danTata Kerja Pembina, Dewan Penasihat, Dewan Pengawas dan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah. Pengurus dilantik Gubernur Jawa Tengah H Bibit Waluyo pada Selasa Pon, 5 Mei 2009 bertepatan 10 Jumadilawal 1430H.

 

KEISTIMEWAAN  MASJID AGUNG JAWA TENGAH 

Kalau ditanya, apa keistimewaan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJ)? Jawabnya banyak. Semua detil yang ada di MAJT menurut saya istimewa dibanding bangunan masjid yang ada di Indonesia, bahkan dunia sekalipun. Luas areal tanahnya saja spektakuler : 10 Hektare. Luas Bangunan Induk atau Bangunan Utama untuk Shalat : 7.669m2 . Bangunan Utama terdiri dua lantai, lantai satu untuk jamaah pria, lantai dua untuk jamaah perempuan. Kapasitas ruang utama diperkirakan bisa menampung 6.000 orang jamaah. Di dalam bangunan induk dilengkapi dengan empat buah Minaret masing-masing tingginya 62 meter. Salah satu Minaret dilengkapi dengan lift yaitu Minaret bagian Depan (Timur) Kanan. Kubah utama berbentuk setengah lingkaran dari cor beton dengan garis tengah 20 meter.

Gaya arsitektur masjid, merupakan perpaduan antara Jawa, Timur Tengah (Arab Saudi) dan Yunani. Gaya Timur Tengah terlihat dari Kubah dan empat minaretnya. Gaya Jawa terlihat dari bentuk tajugan di atap  di bawah kubah utama. Sedang gaya Yunani terlihat pada 25 pilar-pilar Kolasium dipandu dengan kaligrafi Arab yang sangat indah.

Filosofi perancangan Masjid Agung Jawa Tengah merupakan perwujudan dan kesinambungan historis perkembangan agama Islam di Tanah Air. Filosofi ini diterjemahkan dalam Candrasengkala yang dirangkai dalam kalimat “Sucining Guna Gapuraning Gusti” yang berarti Tahun Jawa 1943 atau Tahun Masehi 2001 adalah tahun dimulainya realisasi dari gagasan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah. Candrasengkala ini terwujud menjadi ekspresi jatidiri Masjid Agung yang megah dan indah, perpaduan unsur budaya universal maupun lokal dalam kebudayaan Islam.

Berikutnya, kita memasuki plasa Masjid. Pada plasa ini terdapat Banner yang dinamakan Gerbang Al-Qanathir yang artinya “Megah dan Bernilai”. Tiang pada Gerbang Al-Qanathir ini berjumlah 25 buah merupakan simbolisasi dari 25 rosul Allah sebagai pembimbing umat. Pada Banner Gerbang ini bertuliskan kaligrafi kalimat Syahadat Tauhid “Asyhadu Alla Illa Ha Illallah´ dan Syahadat Rasul “Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah”. Sedang pada bidang datar tertulis huruf pegon berbunyi “Sucining Guna Gapuraning Gusti”. 

Plasa masjid seluas 7500 meter persegi ini merupakan perluasan ruang sholat yang dapat menampung kurang lebih 10.000 jamaah. Dilengkapi dengan 6 payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di masjid Nabawi di Madinah. Konon di dunia hanya ada dua masjid yang dilengkapi dengan payung elektrik semacam ini. Tinggi tiang payung elektrik masing-masing 20 meter sedangkan bentangan (jari-jari) masing-masing 14 meter.

Di dalam ruang utama Masjid Agung Jawa Tengah terdapat Al-Qur’an Raksasa (Mushaf Al-Akbar) karya Santri Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo (Pendiri : KH. Muntaha AlHafidz). Disebut Mushaf Al-Akbar karena ukuran yang besar yaitu 145 cm x 95 cm. Alquran tersebut kini diletakkan di Museum Sejarah Islam di lantai dua Menara Al-Husna Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah.

Di dalam Masjid bagian Timur Utara juga terdapat Bedug Raksasa Karya KH. Ahmad Shobri, Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto Banyumas. Bedug bernama “BEDUG IJO” Mangunsari dibuat pada 20 Sya’ban 1424 H. Panjangnya 310 cm. Garis Tengah Depan/Belakang 186 cm. Garis tengah bagian Tengah 220 cm Keliling depan/belakang 588 cm. Keliling Tengah 683 cm. Jumlah paku 156 buah. Yang istimewa, kata Kiai Shobri, Dukuh tempat dibuatnya bedug namanya Mangunsari dari Bahasa Arab Maun Syaar artinya pertolongan dari kejelekan. Terbuat dari Kayu Waru pilihan dan kata orang pohon yang angker. Pembuatnya harus selalu dalam keadaan wudlu dan puasa. Kiai Shobri juga membuat Kentongan Ijo yang diletakkan bersebelahan dengan Bedug Ijo.

Di bawah bangunan utama terdapat tempat wudlu pria/wanita. Terdapat 93 kran wudlu pria dan 56 kran wudlu wanita. Di tempat wudlu sayap kanan terdapat 50 buah kran wudlu sedang di tempat wudlu sayap kiri terdapat 14 buah. Di bawah bangunan utama juga terdapat Ruang Perkantoran Badan Pengelola, Gedung Serbaguna dan Ruang VIP yang akses langsung ke ruang Imam.

Bangunan sayap kanan adalah Convention Hall (auditorium) yang mampu menampung 2.000 orang. Sedang bangunan sayap kiri adalah Perpustakaan yang nantinya didesain menjadi perpustakaan modern “Digital Library”dan Office Space ruang perkantoran yang disewakan, Di bawah Plasa Masjid Agung Jawa Tengah adalah tempat parkir yang mampu menampung 680 mobil dan 670 sepeda motor.

Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi dengan Wisma Penginapan GRAHA AGUNG dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas. Para peziarah atau pengunjung yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas tersebut dengan harga yang sangat murah. Wisma penginapan ini terletak di bagian Timur utara Masjid.

Daya tarik lainnya yaitu Menara AL-HUSNA (Al-Husna Tower). Tingginya 99 meter ittibak pada angka Al-Asmaul Husna. Bagian dasar menara terdapat Studio Radio DAIS (Dakwah Islam). Lantai 2 dan 3 untuk Museum Kebudayaan Islam. Di lantai 18 terdapat kafe muslim yang bisa berputar 360 derajat. Sambil menikmati hidangan dan lagu-lagu Islami, di kafe ini bisa menikmati indahnya kota Semarang. Lantai 19 untuk menara pandang. Dilengkapi dengan 5 teropong yang bisa melihat pemandangan Kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H, untuk kali pertama dipakai  Rukyatul Hilal dari Tim Rukyah Jawa Tengah menggunakan teropong canggih dari BOSCA.

Yang menginginkan wisata kuliner, di bagian selatan MAJT (Blok C) dan di bagian depan/timur masjid (Blok A dan B) terdapat PUJASERA yang menyediakan aneka hidangan.

Berbagai aktivitas spiritual di Masjid Agung Jawa Tengah yang bias diikuti umat Islam yaitu SEMAAN ALQURAN tiap Jumat pukul 11.00-11.45. PENGAJIAN AHAD PAGI tiap hari Minggu pukul 07.00-08.00. PENGAJIAN IBU-IBU (PIMA-JT) Tiap Jumat Wage pukul 13.00-15.00. PENGAJIAN REMAJA (RISMA-JT) tiap Malam Minggu Wage pukul 20.00-22.00 bersama HABIB UMAR MUTHOHAR SH. Mujahadah ASMAUL HUSNA Tiap Kamis malam pukul 23.00-00.30 bersama Drs KH Amdjad Al-Hafidz. KAJIAN FIQIH tiap Minggu pukul 18.00-19.00. KAJIAN TAFSIR ALQURAN tiap Rabu pukul 19.00-19.00. KAJIAN HADIST Tiap Kamis pukul 18.00-19.00. SENI BACA ALQURAN (TILAWATIL QURAN) Tiap Kamis 19.30-20.30. KAJIAN TASAWUF Tiap Jumat pukul 18.00-19.00.

Untuk pelayanan kesehatan kepada jamaah, Masjid Agung Jawa Tengah mempunyai Poliklinik dua poly yaitu Poly Umum dan Poly Gigi.

Masjid Agung Jawa Tengah mempunyai empat imam masing-masing Hafidz (hapal) Alqur’an 30 juz. Mereka tidak hanya hapal tetapi ketika melantunkan ayat AlQur’an saat Shalat Maghrib, Isya dan Shubuh juga tarawih harus dengan lagu seperti di Masjidil Haram. Mereka adalah KH. Ulil Abshor AlHafidz dari Jepara, KH. Zaenuri Ahmad AlHafidz dari Salatiga, KH. Ahmad Thoha dari Pekalongan dan KH. Muhaimin AlHafidz. Sedang Muadzin yaitu Mohammad Rokhani, Muhammadun Zen dan Muhammad Yusuf.

KUNJUNGAN  TAMU 

Masjid ini menjadi daya tarik masyarakat, tidak hanya yang ingin beribadah shalat. Tetapi banyak yang sekaligus memanfaatkan untuk berwisata. Lihatlah pada akhir pekan Sabtu dan Minggu. Di Masjid ini penuh sesak dengan manusia. Untuk sekedar mencari makanan dan minuman di sekitar masjid terdapat puluhan bahkan ratusan pedagang berbagai aneka menu makanan yang lezat. Mereka tertata apik dalam bangunan-bangunan kecil yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Usaha (LPU) Masjid Agung Jawa Tengah.

Para peziarah biasanya datang tidak mengenal waktu, bisa siang hari, malam hari bahkan tengah malam dan dinihari. Biasanya mereka datang menggunakan bus bisa mencapai puluhan bus. Tamu-tamu pejabat juga menyempatkan datang seperti rombongan DPR RI, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lemhanas, peserta-peserta kursus, penataran, instansi dan lain-lain. Luar biasa memang.

Beberapa tamu dari luar negeri yang sudah bersilaturahim dan mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah yaitu Yunani, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, Amerika Serikat, Jepang, China, wartawan Zimbabwe Afrika, para ulama dari Hadramaut Yaman, Australia, RRC, Mesir, Iran, Irak, Suriname dan lain-lain.

*) Agus Fathuddin Yusuf adalah Wakil Ketua III Dewan Pelaksana Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah